Rechterlijk Pardon dalam KUHP Nasional: Batas Diskresi dan Kepastian Hukum
DOI:
https://doi.org/10.26623/julr.v9i3.14354Keywords:
Batas Diskresi, Kepastian Hukum, KUHP Nasional, Rechterlijk PardonAbstract
This study aims to analyze the policy rationale underlying the regulation of judicial pardon (rechterlijk pardon) in the National Criminal Code and to formulate operational parameters for its implementation under Article 70 of the National Criminal Code. This issue is important because judicial pardon reflects a shift in Indonesian criminal law from a rigid retributive model toward a more humane approach based on substantive justice. Previous studies have generally focused on conceptual, comparative, and practical aspects of judicial pardon, but have not specifically formulated concrete operational parameters for judges in applying Article 70 of the National Criminal Code. This research employs a normative legal method using statutory, conceptual, and analytical approaches supported by secondary legal materials analyzed qualitatively. The results show that the implementation of judicial pardon requires measurable normative indicators to prevent excessive judicial discretion and sentencing disparity. These indicators are classified into three categories, namely subjective parameters, including the offender’s age, first-offender status, remorse, and likelihood of reoffending; objective parameters, including the seriousness of the offense, level of loss, and degree of culpability; and social parameters, including victim recovery, reconciliation, social impact, and public interest. The study concludes that judicial pardon can only function effectively when supported by clear judicial guidelines, proportional reasoning, and balanced protection of offenders, victims, and legal certainty.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dasar kebijakan pengaturan asas pemaafan hakim (rechterlijk pardon) dalam KUHP Nasional serta merumuskan parameter operasional penerapannya dalam Pasal 70 KUHP Nasional. Persoalan ini penting karena asas pemaafan hakim mencerminkan pergeseran hukum pidana Indonesia dari model retributif yang kaku menuju pendekatan yang lebih manusiawi berbasis keadilan substantif. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada aspek konseptual, komparatif, dan praktik penerapan rechterlijk pardon, namun belum secara khusus merumuskan parameter operasional yang konkret bagi hakim dalam menerapkan Pasal 70 KUHP Nasional. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan analitis yang didukung oleh bahan hukum sekunder serta dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan asas pemaafan hakim memerlukan indikator normatif yang terukur guna mencegah diskresi hakim yang berlebihan dan disparitas pemidanaan. Indikator tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu parameter subjektif yang meliputi usia pelaku, status pelaku pertama, penyesalan, dan kemungkinan residivisme; parameter objektif yang meliputi tingkat keseriusan tindak pidana, besarnya kerugian, dan derajat kesalahan; serta parameter sosial yang meliputi pemulihan korban, perdamaian, dampak sosial, dan kepentingan publik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa asas pemaafan hakim hanya dapat berfungsi efektif apabila didukung oleh pedoman yudisial yang jelas, pertimbangan yang proporsional, serta perlindungan yang seimbang terhadap pelaku, korban, dan kepastian hukum.
References
Anwar, Arizal. “Praktik Pemaafan Hakim (Rechterlijk Pardon) dalam Hukum Pidana dan Pemidanaan dalam Perspektif Pancasila.” In Prosiding Seminar Nasional Mewujudkan Sistem Hukum Nasional Berbasis Pancasila, 33–54. Surabaya: Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, 2024. https://conference.untag-sby.ac.id/index.php/shnbc/article/view/9311.
Anwar, Arizal, Slamet Suhartono, Yovita Arie Mangesti, dan Erny Herlin Setyorini. “The Concept of Judge’s Forgiveness (Rechterlijk Pardon) in The National Criminal Law Code.” DiH: Jurnal Ilmu Hukum 21, no. 2 (2025): 183–208. https://doi.org/10.30996/dih.v0i0.12674.
Badruzzaman. “Urgensi Penerapan Pemaafan Hakim (Rechterlijk Pardon) Beserta Peluang dan Tantangannya Dalam Penjatuhan Putusan Peradilan Pidana di Indonesia.” Universitas Islam Indonesia yogyakarta, 2024.
Bangun, Anza Ronaza, Edi Yunara, M Eka Putra, dan Marlina. “Rechterlijk Pardon (Pemaafan Hakim) dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di Sistem Pemidanaan Indonesia.” Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 2, no. 5 (2023): 369–80. https://doi.org/10.58578/alfurqan.v2i5.XXXX.
Fadli, Wan Ferry, M Musa, dan Kasmanto Rinaldi. “The Existence and Application of The Principle of Judge’s Forgiveness (Rechterlijk Pardon/Judicial Pardon) In Criminal Law and Court Decisions.” Journal International of Officium Nobile 1, no. 1 (2025): 126–39. https://journal.appihi.or.id/index.php/JION/article/view/.
Fadli, Wan Ferry, dan Diki Zukriadi. “Konsep Pemaafan Hakim (Rechterlijk Pardon) Dalam Putusan Hakim (Putusan Nomor 2/Pid.Sus-Anak/2021/PN RGT).” Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum 3, no. 6 (2025): 9633–49. https://doi.org/10.61104/alz.v3i5.2667.
Firdaus, Muhammad Bintang. “Dialektika Keadilan, Kepastian, Kemanfaatan Hukum dalam Perspektif Gustav Radbruch pada Hukum Indonesia.” Kajian Hukum dan Kebijakan Public 3, no. 1 (2025): 20–21. https://doi.org/10.62379/qy4b6z80.
Halilah, Siti, dan Mhd. Fakhrurrahman Arif. “Asas Kepastian Hukum Menurut Para Ahli.” Siyasah: Jurnal Hukum Tata Negara 4, no. 2 (2021): 56–65. https://www.ejournal.an-nadwah.ac.id/index.php/Siyasah/article/view/334.
Hariza, Muhammad Gibran, dan Syarif Nurhidayat. “Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana dalam Konsep Pemaafan Hakim (Perbandingan antara Hukum Pidana Indonesia dengan Belanda).” In Prosiding Seminar Hukum Aktual: Meneropong Masa Depan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, 1–20. Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, 2025. https://journal.uii.ac.id/SHA/article/view/46003.
Irawan, Okky, Saverius Nahat, Tetty Nababan, Syafrida Syafrida, dan Sufiarina Sufiarina. “Penegakkan Hukum di Negara Republik Indonesia.” Federalisme: Jurnal Kajian Hukum dan Ilmu Komunikasi 2, no. 1 (2025): 21–28. https://doi.org/10.62383/federalisme.v2i1.479.
Irwansyah. “Penelitian Hukum: Pilihan Metode & Praktik Penulisan Artikel.” Jurnal Mirai Management 7, no. 2 (2022): 17–28. https://doi.org/10.37531/mirai.v7i2.2014.
Jayusman, Dandi, Dita Gusnawati, dan Muhammad Fathi. “Judicial Pardon: Antara Abuse of Pardon Power dan Pembaharuan Hukum Pidana.” Justitia et Pax 40, no. 2 (2024): 331–60. https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/justitia/article/view/XXXX.
Kai, Muh. Iksan Putra, Dian Ekawaty Ismail, dan Suwitno Yutye Imran. “Asas Pemaafan Hakim dalam Pembaharuan Hukum Pidana di Indonesia.” Doktrin: Jurnal Dunia Ilmu Hukum dan Politik 2, no. 1 (2024): 162–74. https://doi.org/10.59581/Doktrin-widyakarya.v2i1.1936.
Kristian, Doddy, Bambang Sadono, Kadi Sukarna, dan Diah Sulistyani RS. “Kewenangan Polri Dalam Menegakkan Kode Etik Anggota Polri Yang Melakukan Tindak Pidana Narkoba.” Jurnal USM Law Review 4, no. 2 (2021): 663. https://doi.org/10.26623/julr.v4i2.3332.
Leduq, Anselmus, Benediktus Hestu, dan Cipto Handoyo. “Epistemologi Filsafat Pancasila dalam Pembangunan Politik dan Hukum di Indonesia.” Jurnal USM Law Review 7, no. 3 (2024): 1498–1511. https://doi.org/10.26623/julr.v7i3.10344.
Markuat. “Dampak Penetapan Lockdown Bagi Sebuah Negara dalam Pemenuhan Kebutuhan Berdasarkan Asas Keadilan.” Jurnal Penelitian Hukum Indonesia 3, no. 1 (2022): 80–97. https://ojs.uniska-bjm.ac.id/index.php/jphi/article/view/336.
Nur, Andi Wahyuddin, dan Andi Bau Mallarangeng. “Transformasi Kebijakan Pemidanaan Dalam KUHP Nasional: Antara Humanisasi Hukuman Dan Efektivitas Penanggulangan Kejahatan.” Jurnal Kolaboratif Sains 9, no. 1 (2026): 1414–21. https://doi.org/10.56338/jks.v9i1.10127.
Putri, Novalinda Nadya, dan Muhammad Enaldo Hasbaj. “Pemaafan Hakim sebagai Instrumen Humanisasi Pemidanaan dalam KUHP Nasional: Rekonstruksi Batas Diskresi Hakim antara Keadilan Substantif dan Kepastian Hukum” 6, no. 3 (2026): 2210–25. https://doi.org/10.38035/jihhp.v6i3.7967.
Rahmadani, Ahdan. “Penjelasan Pasal 70 ayat (1) KUHP: Prinsip Pembatasan Penjatuhan Pidana Penjara.” Lawyer Ahdan Rahmadani, 2026. https://www.lawyer-ahdanramdani.com/penjelasan-pasal-70-ayat-1-kuhp-prinsip-pembatasan-penjatuhan-pidana-penjara/.
Sarjana, Naja. “Definisi Data Sekunder dan Cara Memperolehnya.” Detikedu, 2023. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6843072/definisi-data-sekunder-dan-cara-memperolehnya.
Savitri, Zandra Azelia, Muhamad Amirulloh, dan Mei Susanto. “Urgensi Sertifikat Keandalan Privasi Dalam Menghadapi Kebocoran Data Pribadi.” Jurnal USM Law Review 8, no. 1 (2025): 235–53. https://doi.org/10.26623/julr.v8i1.11385.
Suryawan, Ridwan. “Asas Rechtelijk Pardon (Judicial Pardon) dalam Perkembangan Sistem Pemidanaan di Indonesia.” Indonesian Journal of Criminal Law and Criminology 2, no. 3 (2021): 170–77. https://doi.org/10.18196/ijclc.v2i3.12467.
Syakir, Yusuf, dan Herman Sujarwo. “Kebijakan Pemaafan Hakim (Rechterlijk Pardon) dalam KUHP Baru.” Syariati: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hukum 9, no. 1 (2023): 109–18. https://doi.org/10.32699/syariati.v9i1.4655.
Wicaksono, Benny Satrio, Ismansyah, dan Edita Elda. “Rechterlijke Pardon sebagai Penyeimbang Asas Legalitas dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia.” Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development 7, no. 4 (2025): 2658–65. https://doi.org/10.38035/rrj.v7i4.1574.
Yunita, Rika. “Analisis Dampak Berlakunya KUHP Nasional Pada Pemidanaan Kekerasan Psikis Pada Anak Dalam Lingkup Rumah Tangga.” Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia 5, no. 1 (2025): 24–33. https://doi.org/10.59141/cerdika.v5i1.2361.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 JURNAL USM LAW REVIEW

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
The journal holds the copyright for each article published with work licensed simultaneously under a Creative Commons Attribution 4.0 International License, which allows others to share the work with an acknowledgment of the authorship and early publication of the work in this journal.


Citedness in Scopus 

