Model Pengaturan Plea Bargaining Dalam Pembaharuan Hukum Acara Pidana Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.26623/julr.v9i1.13391Keywords:
Acara Pemeriksaan Singkat, KUHAP, Pengakuan BersalahAbstract
This study aims to analyze the regulatory model of plea bargaining under the 2025 Criminal Procedure Code and its implications for ensuring legal certainty and protecting defendants’ rights. This research constitutes normative legal research employing statutory, conceptual, and comparative approaches. The study is motivated by the enactment of the 2023 Criminal Code, which adopts a rehabilitative paradigm that is not yet fully aligned with the former Criminal Procedure Code, which is retributive in nature. This lack of alignment has resulted in inefficiencies in the criminal justice system and has exacerbated the problem of overcrowding in correctional institutions. The 2025 Criminal Procedure Code subsequently introduced a guilty plea mechanism as an instrument to enhance judicial efficiency; however, its regulatory framework still leaves several normative issues unresolved. The findings indicate that plea bargaining under the 2025 Criminal Procedure Code is characterized by a plea without bargain model with an active role of the judge. Nevertheless, it contains normative inconsistencies, particularly concerning disparities in sentencing thresholds, submission requirements, and the procedural design of the legal product resulting from summary examination proceedings, which is issued merely in the form of a “letter,” thereby creating uncertainty regarding available legal remedies. The novelty of this study lies in its prescriptive argument emphasizing the need to clarify the final legal form of the defendant’s admission within summary examination procedures, to harmonize sentencing limits, and to formulate technical regulations aimed at preventing abuse of authority and ensuring a balance between judicial efficiency and legal certainty within the framework of Indonesia’s new penal system.
Penelitian ini bertujuan menganalisis model pengaturan plea bargaining dalam KUHAP 2025 serta implikasinya terhadap kepastian hukum dan perlindungan hak terdakwa. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemberlakuan KUHP 2023 yang berparadigma rehabilitatif belum sepenuhnya selaras dengan KUHAP lama yang retributif, sehingga menimbulkan ketidakefisienan peradilan pidana dan memperparah persoalan overcrowding lembaga pemasyarakatan. KUHAP 2025 kemudian memperkenalkan mekanisme pengakuan bersalah sebagai instrumen efisiensi, namun pengaturannya masih menyisakan persoalan normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plea bargaining dalam KUHAP 2025 bercirikan plea without bargain dengan peran aktif hakim, tetapi mengandung inkonsistensi norma, khususnya terkait perbedaan batas ancaman pidana, syarat pengajuan, serta desain produk hukum acara pemeriksaan singkat yang hanya berbentuk “surat” dan menimbulkan ketidakjelasan upaya hukum. Kebaruan penelitian ini terletak pada argumentasi preskriptif mengenai kebutuhan penegasan bentuk akhir pengakuan terdakwa dengan acara pemeriksaan singkat, harmonisasi batas pemidanaan, serta perumusan regulasi teknis guna mencegah penyimpangan kewenangan dan memastikan keseimbangan antara efisiensi peradilan dan kepastian hukum dalam kerangka pemidanaan baru di Indonesia.
References
Abuthalib, Cut Nangrie Sar, Dian Ekawaty Ismail, and Ahmad. “Plea bargaining Dalam Bayang-Bayang Keadilan: Antara Efisiensi Penegakan Hukum Dan Degradasi Nilai Kepastian Hukum.” Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum 4, no. 1 (2026). https://doi.org/10.61104/alz.v4i1.3201.
Adriyani, Andi Novianti, Wahidin, and Muh Ikhsan Saputra. “The Role of the Prosecutor’s Office in Implementing Plea bargaining: A Study in the Indonesian Judicial System.” Delictum : Jurnal Hukum Pidana Islam 2, no. 2 (2024): 16. https://doi.org/10.35905/delictum.v2i2.8906.
Ahadi, Lalu M. Alwin. “Efektivitas Hukum Dalam Perspektif Filsafat Hukum: Relasi Urgensi Sosialisasi Terhadap Eksistensi Produk Hukum.” Jurnal USM Law Review 5, no. 1 (2022): 110. https://doi.org/10.26623/julr.v5i1.4965.
Airlangga, Rendy, Kyagus Ramadhani, Yuvina Ariestanti, and Adam Ardiansyah Ramadhan. “Ius Constituendum Diversi Terhadap Pengulangan Tindak Pidana Yang Dilakukan Oleh Anak.” Jurnal Ius Constituendum 8, no. 2 (2023): 292. https://doi.org/10.26623/jic.v8i2.7055.
Akbar, Aksan, La Ode Awal Sakti, and Faisal Herisetiawan Jafar. “Penerapan Restorative Justice Dalam Perkara Korupsi Sebagai Wujud Peradilan Sederhana, Cepat, Dan Biaya Ringan.” Jurnal Ius Constituendum 8, no. 2 (2023): 239. https://doi.org/10.26623/jic.v8i2.6822.
Alimuddin, Alimuddin, Muh Zuhud Al-Khaer Zahir, Muh Firdaus Rasyid, and Muh Fichriyadi Hastira. “Plea bargaining Dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Negara Indonesia.” Legal Standing : Jurnal Ilmu Hukum 8, no. 2 (2024): 418. https://doi.org/10.24269/ls.v8i2.9213.
Arky, Mexsasa Indra, and Ledy Diana. “Politik Hukum Pengaturan Plea bargaining Dalam Penegakan Hukum Perkara Pidana Di Indonesia.” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 10, no. 21 (2024): 116. https://doi.org/10.5281/zenodo.14291789.
Awanadi, I Gusti Agung Virlan, and I Gusti Agung Kiddy Krsna Zulkarnain. “Konsep Jalur Khusus Terkait Dengan Kekuasaan Kehakiman Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia.” Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum 5, no. 2 (2025). https://doi.org/10.56128/jkih.v5i2.449.
Bagaskoro, Ladito R. “Rekonseptualisasi Jalur Khusus Dalam Rancangan Kuhap Sebagai Bentuk Reformasi Sistem Peradilan Pidana Indonesia.” Arena Hukum 14, no. 1 (2021): 193. https://doi.org/10.21776/ub.arenahukum.2021.01401.10.
Dharmawan, Allison Dara, and Nadira Karisma Ramadanti. “Pidana Alternatif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Dan Kaitannya Dengan Tujuan Pemidanaan.” Presidensial: Jurnal Hukum, Administrasi Negara, Dan Kebijakan Publik 1, no. 4 (2024): 85. https://doi.org/10.62383/presidensial.v1i4.197.
Effendi, Tolib, and Fendi Setyawan. “Kemandirian Jaksa Dalam Proses Plea Agreement Di Negara-Negara Dengan Indeks Persepsi Korupsi Rendah (Perbandingan Pelaksanaan Di Indonesia, Argentina Dan Filipina).” Journal Inicio Legis 6, no. 1 (2025). https://doi.org/10.21107/il.v6i1.30187.
Fajar, Udik. Kerusuhan Di Lapas Dan Kaburnya Narapidana Adalah Gejala, Ancaman Sebenarnya Bernama Overcrowded. n.d. Accessed September 27, 2025. https://kemenimipas.go.id/publikasi-2/kolom-opini/kerusuhan-di-lapas-dan-kaburnya-narapidana-adalah-gejala-ancaman-sebenarnya-bernama-overcrowded.
Firdaus, Afifah, and Indra Yugha Koswara. “Pembaharuan Hukum Pidana Di Indonesia: Analisis Tentang Pidana Pengawasan Dan Asas Keseimbangan.” Lex Renaissance 9, no. 1 (2024): 1–22. https://doi.org/10.20885/JLR.vol9.iss1.art1.
Frans, Mardian Putra, Agustina Indah Intan Sari, Darisa Winda, Alfret Alfret, and Nicholas Gerard Felix Simeone. “Plea bargaining System, Deferred Prosecution Agreement, Dan Judicial Scrutiny Sebagai Upaya Mengatasi Overkapasitas Lembaga Pemasyarakatan.” Perspektif Hukum 24, no. 2 (2024). https://doi.org/10.30649/ph.v24i2.273.
Alwan Hadianto. “Urgensi Pembaharuan Kitab Hukum Acara Pidana Dalam Menjawab Tantangan Penegakan Hukum Modern Di Indonesia.” Jurnal USM Law Review 8, no. 3 (2025): 2842. https://doi.org/10.26623/julr.v8i3.12820.
Hermawati, Rifi. “Studi Perbandingan Hukum ‘Plea bargaining System’ Di Amerika Serikat Dengan ‘Jalur Khusus’ Di Indonesia.” Jurnal Hukum Lex Generalis 4, no. 1 (2023): 102. https://doi.org/10.56370/jhlg.v4i1.351.
Hieriej, Eddy O.S. Prinsip-Prinsip Hukum Pidana. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka, 2016.
Husin, Nabilla Callosa, and Naylla Shabilla Callistha Husin. “Plea bargaining as a Reform in Criminal Procedure Law: An Analysis of Article 199 of the Draft Criminal Procedure Code.” Ius Poenale 5, no. 1 (2024): 31–42. https://doi.org/10.25041/ip.v5i1.3486.
Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum: Edisi Revisi. Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2023.
Muksin, Muchlas Rastra Samara. “Tujuan Pemidanaan dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia.” Sapientie Et Virtus 8, no. 1 (2023): 225. https://doi.org/10.37477/sev.v8i1.465.
Nasution, Mora Nur Fitrah. “Adaptasi Sistem Plea-Bargaining Dalam Kerangka Hukum Pidana Indonesia: Tinjauan Komparatif Dari Amerika Serikat, India, Dan Prancis.” Yustisia Tirtayasa 5, no. 3 (2025). https://dx.doi.org/10.51825/yta.v5i3.36059.
Nelson, Febby Mutiara. Plea bargaining & Deferred Prosecution Agreement. Jakarta: Sinar Grafika, 2020.
Noviyanti, Mega Mustika. “Nilai Kemanfaatan Konsep Plea bargaining System Terhadap Tindak Pidana Korupsi Jika Diterapkan Pada Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia.” Jurnal Darma Agung 32, no. 5 (2024): 365. http://dx.doi.org/10.46930/ojsuda.v32i5.4614.
Paklioy, Ronny Putra Dirgantara, Juanrico Alfaromona Sumarezs Titahelu, and Denny Latumaerissa. “Penerapan Konsep Plea bargaining Dalam Sistem Peradilan Pidana Terpadu Di Indonesia.” TATOHI: Jurnal Ilmu Hukum 4, no. 8 (2024): 651. https://doi.org/10.47268/tatohi.v4i8.2473.
Ramadhan, Chocky Risda, Fachrizal Afandi, Korneles Materay, Sustira Dirga, Nur Ansar, and Eramus A.T. Napitulupu. Peluang Penerapan Plea bargaining Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia. Malang: Inara Publisher, 2024.
Setiyati, Tri. “Alternatif Penyelesaian Perkara Pidana Melalui Mediasi Penal Sebagai Bagian Konsep Restorative Justice Dalam Hukum Positif Indonesia.” Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora Dan Politik 5, no. 6 (2025): 4820. https://doi.org/10.38035/jihhp.v5i6.5105.
Sidqi, Muhammad Almer. Cek Data: Presiden Amnesti Ribuan Napi, Benarkah Penjara Kelebihan Kapasitas? 2024. https://katadata.co.id/cek-data/6764e9278b831/cek-data-presiden-amnesti-ribuan-napi-benarkah-penjara-kelebihan-kapasitas.
Sirjon, Lade, La Ode Muhamad Sulihin, and Yan Fathahillah Purnama. “Perbandingan Mekanisme Pengakuan Bersalah Pada Jalur Khusus Dalam RUU KUHAP Dan Konsep Plea bargaining Ditinjau Dari Asas Non-Self Incrimination.” Halu Oleo Law Review 7, no. 2 (2023): 224–35. https://doi.org/10.33561/holrev.v7i2.29.
Valentino, Cecilia Rudolf. “Restorative Justice as an Alternative in the Indonesian Criminal Justice System.” Journal of Progressive Law and Legal Studies 3, no. 03 (2025): 348. https://doi.org/10.59653/jplls.v3i03.1864.
Wahyudhi, Dheny, Sri Rahayu, Elly Sudarti, and Herry Liyus. “Prinsip Plea bargaining Dalam Penyelesaian Perkara Pidana Secara Cepat, Sederhana, Dan Biaya Ringan Dalam Pembaruan Hukum Acara Pidana.” Jurnal Sains Sosio Humaniora 6, no. 2 (2022): 46–58. https://doi.org/10.22437/jssh.v6i2.22592.
Weriansyah, Aditya, Matheus Nathanael Siagian, Aisyah Assyifa, Alexander Tanri, Arianda Lastiur Paulina, and Sri B. Praptadina. Pembaharuan Hukum Acara Pidana Pasca Berlakunya KUHP 2023. Jakarta: Indonesia Judicial Research Society (IJRS), 2024.
Wibowo, Kurniawan Tri. Plea bargaining Sebagai Pembaharuan Hukum Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia. Surabaya: Pustaka Aksara, 2021.
Wicaksana, Villar Wibawa and Mas Putra Zenno Januarsyah. “Kebijakan Pembaruan Hukum Pidana Tentang Pidana Kerja Sosial Dalam KUHP Nasional : Perspektif Tujuan Pemidanaan.” Jurnal USM Law Review 8, no. 2 (2025): 709. https://doi.org/10.26623/julr.v8i2.11092.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 JURNAL USM LAW REVIEW

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
The journal holds the copyright for each article published with work licensed simultaneously under a Creative Commons Attribution 4.0 International License, which allows others to share the work with an acknowledgment of the authorship and early publication of the work in this journal.


Citedness in Scopus 

