Implikasi Hukum Transisi Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Ke Pailit Terhadap Perjanjian Sewa Menyewa

Authors

  • Ibnu Aziz Magister Hukum, Universitas Riau Kepulauan, Batam, Indonesia
  • Pristika Handayani Magister Hukum, Universitas Riau Kepulauan
  • Dwi Afni Maileni Magister Hukum, Universitas Riau Kepulauan

DOI:

https://doi.org/10.26623/julr.v8i3.12317

Keywords:

Debitur, Kreditur, Harta Pailit, Sewa

Abstract

This study aims to analyze the legal consequences of the transition from Suspension of Debt Payment Obligations (PKPU) to bankruptcy on lease agreements, with particular emphasis on the legal position of tenants and lessors. Previous studies have generally examined bankruptcy or PKPU separately, leaving a research gap regarding the implications of the PKPU-to-bankruptcy transition for ongoing contractual relationships. The research method employed is normative juridical with statutory, conceptual, and case study approaches.The findings show that the transition from PKPU to bankruptcy creates legal uncertainty, particularly the loss of tenants’ rights despite fulfilling their obligations, and the vulnerable position of lessors whose property may be drawn into the bankruptcy estate. Article 36, paragraph (1) of Law No. 37 of 2004 provides the legal basis for lessors to demand the return of leased property from the bankruptcy estate; however, in practice, this right often collides with the interests of other creditors. The analysis using Philipus M. Hadjon’s theory of legal protection demonstrates the weakness of preventive instruments for bona fide parties, while Gustav Radbruch’s theory of justice emphasizes the need for a balance between legal certainty, justice, and expediency in insolvency dispute settlement. Therefore, this study underlines the importance of regulatory reform to ensure a balance between preventive and repressive legal protection, and recommends that post-bankruptcy lease obligations be classified as bankruptcy estate debts, with reasonable termination rights granted to either the curator or the lessor.

 

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akibat hukum transisi dari Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) ke pailit terhadap perjanjian sewa-menyewa, dengan menekankan posisi hukum penyewa dan pemilik barang sewa. Penelitian terdahulu umumnya hanya membahas pailit atau PKPU secara terpisah, sehingga terdapat kekosongan kajian terkait implikasi transisi PKPU ke pailit bagi keberlangsungan perjanjian yang sedang berjalan. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, serta studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi PKPU ke pailit menimbulkan ketidakpastian hukum, khususnya hilangnya hak penyewa meskipun telah memenuhi kewajibannya, serta posisi rentan pemilik barang sewa karena objeknya dapat ditarik ke dalam boedel pailit. Pasal 36 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 memberi dasar hukum bagi pemilik barang untuk menuntut pengembalian objek sewa dari boedel pailit, namun dalam praktiknya sering terjadi benturan dengan kepentingan kreditur lain. Analisis dengan teori perlindungan hukum Philipus M. Hadjon menunjukkan lemahnya instrumen preventif bagi pihak beritikad baik, sedangkan teori keadilan Gustav Radbruch menegaskan perlunya keseimbangan antara kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan dalam penyelesaian sengketa kepailitan. Dengan demikian, penelitian ini menekankan pentingnya reformulasi regulasi agar perlindungan hukum preventif dan represif dapat berjalan seimbang, serta merekomendasikan agar kewajiban sewa pasca-putusan pailit dikualifikasi sebagai utang boedel dengan hak pengakhiran perjanjian secara wajar oleh kurator atau pemilik barang sewa.

 

References

Alzamzami, Jefri, and Leli Joko Suryono. “Pelaksanaan Perjanjian Sewa Menyewa Rumah Susun Dan Akibat Hukumnya Dalam Hal Terjadi Wanprestasi.” Media of Law and Sharia 2, no. 3 (2021): 238–53. https://doi.org/10.18196/mls.v2i3.12075.

Arifin, Miftah. “Membangun Konsep Ideal Penerapan Asas Iktikad Baik Dalam Hukum Perjanjian.” Jurnal Ius Constituendum 5, no. 1 (2020): 66. https://doi.org/10.26623/jic.v5i1.2218.

B. Simanjuntak, Adolf Theodore. “Kedudukan Perjanjian Sewa Dalam Upaya Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.” Jurnal Hukum Indonesia 2, no. 4 (2023): 174–86. https://doi.org/10.58344/jhi.v2i4.254.

Bahmid, Nelvitia Purba; Ismed Batubara; Zaenal Arifin; Metode Penelitian Hukum. Medan: Pustaka Media Publishing, 2024.

Fazahra Arlia Putri, Jum Anggriani, Fitra Deni. “Akibat Hukum Batalnya Akta Sewa Menyewa Menurut Gugatan Actio Pauliana Dalam Kepailitan.” Jurnal Hukum Lex Generalis 6, no. 4 (2025): 1–28. https://doi.org/10.56370/jhlg.v6i4.908.

Harding, Haryadi. “Teori Pembuktian Sederhana Dalam Perkara Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.” Pamulang Law Review 7, no. 1 (2024): 65–79. https://doi.org/10.32493/palrev.v7i1.43284.

Harir, Moh, Soegianto Soegianto, Zaenal Arifin, Kukuh Sudarmanto, and Miftah Arifin. “Konflik Norma (Antinomy Normen) Sita Umum Dengan Sita Pidana Dalam Pemberesan Harta Pailit.” Jurnal USM Law Review 8, no. 2 (2025): 1107–25. https://doi.org/https://doi.org/10.26623/julr.v8i2.11384.

Kainur, Erwin Al Qadri, and Ariadin. “Kedudukan Badan Hukum Dalam Perkara Kepailitan.” Jurnal Global Futuristik 2, no. 2 (2024): 98–104. https://doi.org/10.59996/globalistik.v2i2.568.

Muhammad Ihsan, Tuti Widyaningrum. “Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Terbukanya Upaya Hukum Kasasi Atas Putusan PKPU.” Jurnal Ius Constituendum 8, no. 2 (2023). https://doi.org/10.26623/jic.v8i2.7027.

———. “Kedudukan Kurator Dalam Melakukan Eksekusi Budel Pailit Yang Berimplikasi Pada Pelaporan Secara Pidana Suatu Kajian Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.” Jurnal Ius Constituendum 3, no. 2 (2018): 197. https://doi.org/10.26623/jic.v3i2.1040.

Mulyatno, Ahmad Dwi. “Kewenangan Kurator Untuk Mengurus Perseroan Terbatas Pailit.” Asas Wa Tandhim: Jurnal Hukum, Pendidikan Dan Sosial Keagamaan 1, no. 2 (2022): 155–78. https://doi.org/10.47200/awtjhpsa.v1i2.1280.

Raden Ayu Widya Sari, Dkk. “Pertimbangan Hakim Pada Putusan Nomor 458/Pdt.Sus-Pkpu/2021/PN.Niaga.Jkt.Pst Terhadap Proses Terjadinya Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.” Lex Stricta: Jurnal Hukum 2, no. 2 (2023). https://doi.org/10.46839/lexstricta.v2i2.19.

Rajab, Safrul. “Pengaruh Kepercayaan Diri Mahasiswa Terhadap Dorongan Berwirausaha.” Jurnal Bisnis Kompetitif 1, no. 2 (2022): 213–18. https://doi.org/10.35446/bisniskompetif.v1i2.1109.

Rosidi, Ahmad, M Zainuddin, and Ismi Arifiana. “Metode Dalam Penelitian Hukum Normatif Dan Sosiologis (Field Research).” Journal Law and Government 2, no. 1 (2024): 46–58. https://doi.org/10.31764/jlag.v2i1.21606.

Simaremare, Sumurung P, Bismar Nasution, Sunarmi Sunarmi, and Edy Yunara. “Politik Hukum Jangka Waktu Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Di Indonesia.” Jurnal Ius Constituendum 6, no. 1 (2021): 99. https://doi.org/10.26623/jic.v6i1.2915.

Sirait, Manaon Damianus, Johannes Ibrahim Kosasih, and Desak Gde Dwi Arini. “Asas Itikad Baik Dalam Perjanjian Sewa-Menyewa Rumah Kantor.” Jurnal Analogi Hukum 2, no. 2 (2020): 221–27. https://doi.org/10.22225/ah.2.2.1934.221-227.

Sri Astuti Agustina, Monica, Muhammad Rama Sanjaya, and Aulia Rahman Hakim. “Kedudukan Perjanjian Sewa Dalam Upaya Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.” Yustitiabelen 10, no. 2 (2024): 186–206. https://doi.org/10.36563/yustitiabelen.v10i2.1168.

Suhaila Zulkifli dan Tajudin Noor. Buku Ajar Hukum Kepailitan. UNPI PRESS, n.d.

Syaichoni, Ahmad. “Motif Tanggung Jawab Sosial Lembaga Keuangan Mikro Syariah Dalam Perspektif Ekonomi Syariah.” Al-Manhaj: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial Islam 5, no. 2 (2023): 2283–96. https://doi.org/10.37680/almanhaj.v5i2.2776.

Utami, Nabil Ratu, Tri Nadia, Samuel Paranna, and Nyulistiowati Suryani. “Strategi Restrukturisasi Utang Dalam Kasus Garuda Indonesia: Pendekatan PKPU.” Doktrina: Jurnal of Law 7, no. April (2024): 59–74. https://doi.org/10.31289/doktrina.v7i1.10939.

Viadolorosa Ninu, Sri Mega Susanti, Mardi Candra, and Gatut Hendro Tri Widodo. “Akibat Hukum Terkait Wanprestasi Dalam Perjanjian Sewa Menyewa Gedung.” Perfecto Jurnal Ilmu Hukum 01, no. 2 (2023): 117–34. https://doi.org/10.32884/jih.v1i2.1443.

Wayan Resmini, Abdul Sakban, Ni Putu Ade Resmayani. “Penyuluhan Tentang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Sewa Menyewa.” Selaparang: Jurnal Pengapdian Masyarakat Berkemajuan 3, no. 2 (2020). https://doi.org/10.31764/jpmb.v3i2.2198.

Wicaksono, Widi Widagdo Pri, and Markus Suryoutomo. “Perlindungan Hukum Terhadap Penyewa Akibat Pemberi Sewa Dinyatakan Pailit.” Jurnal Akta Notaris 2, no. 2 (2023): 229–41. https://doi.org/10.56444/aktanotaris.v2i2.1240.

Downloads

Published

2025-09-06

Issue

Section

Articles

How to Cite

Ibnu Aziz, Pristika Handayani, & Dwi Afni Maileni. (2025). Implikasi Hukum Transisi Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Ke Pailit Terhadap Perjanjian Sewa Menyewa. JURNAL USM LAW REVIEW, 8(3), 1257-1273. https://doi.org/10.26623/julr.v8i3.12317