KAJIAN EMPIRIS SUMUR RESAPAN PADA TANAH SILT

Edi Susilo, Bambang Sudarmanto, Bambang Purnijanto

Abstract


Abstraksi : Pertumbuhan penduduk sebagai pemicu perubahan tataguna lahan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan aliran permukaan dan menurunnya peresapan air ke dalam tanah, yang berakibat  terjadinya banjir dan kekurangan air tanah. Sumur resapan salah satu alat untuk menambah peresapan air dan sekaligus menurunkan debit banjir. Pendekatan persamaan debit sumur resapan pada umumnya dilakukan secara matematis, sedangkan secara empiris masih sangat kurang.Tekstur tanah diinvestigasi dengan grain size dan hidrometer. Klasifikasi tanah dengan menggunakan segitiga tekstur tanah menurut USDA. Dengan menggunakan sumur dinding rapat diameter 50 cm, dan tinggi 90 cm dilakukan pengujian debit resapan sumur sebanyak 6 kali dengan periode waktu awal 0 jam (tes-1), 3 jam (tes-2), 18 jam (tes-3), 24 jam (tes-4), 42 jam (tes-5), dan 24 jam (tes-6) dengan terus menerus sumur resapan diisi air tanpa terputus. Pengukuran debit resapan dilakukan dari kedalaman 85 cm, setiap penurunan 5 cm sampai kedalaman 10 cm. Diterimanya sebuah persamaan regressi dengan melihat koefisien korelasi (R2)mendekati 1.

Hasil penelitian debit sumur resapan dengan diameter 0,50 meter untuk tekstur tanah silt, mengikuti persamaan parabola Qs = 0,000001 . H 4,487. Nilai R2 untuk persamaan ini adalah 0,984. Debit resapan sumur resapan akan menurun semakin lama peresapan berlangsung. Tanah silt belum mencapai kondisi jenuh dalam waktu peresapan selama 24 jam. Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang sumber daya air yang berhubungan dengan permasalahan debit resap sumur resapan. Penelitian ini masih sangat awal dalam menyimpulkan hubungan debit resapan dengan kedalaman air dan masih perlu dikembangkan dengan variasi jenis tanah, diameter dan jenis sumur resapan.

 

Abstract: Population growth as a driver of land-use change has a direct impact on rising surface flows and decreasing infiltration into the soil, resulting in flooding and water shortages. The absorption well is one of the tools to increase water infiltration and simultaneously decrease the flood discharge. The approach of the discharge well equation is generally done mathematically, while the empirical is still very less. The soil texture is investigated by grain size and hydrometer. Soil classification using a soil texture triangle according to USDA. Using well wall wells of diameter 50 cm, and height 90 cm, a well discharge well 6 times (0 test-1), 3 hours (test-2), 18 hours (test-3), 24 hours hour (4th test), 42 hours (test-5), and 24 hours (test-6) with continuous absorption wells filled with water without interruption. The measurement of absorption discharge is done from a depth of 85 cm, each decrease 5 cm to a depth of 10 cm. Acceptance of a regression equation by looking at the correlation coefficient (R2) approaches 1.

The results of discharge well discharge research with diameter 0.50 meters for silt soil texture, following parabolic equation Qs = 0,000001. H 4,487. The value of R2 for this equation is 0.984. The absorption well discharge will decrease the longer the infiltration takes place. The silt soil has not reached saturation condition within 24 hours of impregnation. It is expected that this research can be useful in the development of science, especially the field of water resources related to the problems of absorption wells disposal. This research is still very early in concluding the relationship of absorption discharge with water depth and still need to be developed with variation of soil type, diameter and type of absorption well

Keywords


absorption wells; soil texture; silt

Full Text:

PDF

References


Arif, I., 2009, “Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Karakteristik Hidrologi Daerah Tangkapan Air Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat”, Tesis, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Magister Ilmu Geografi Universitas Indonesia Depok, Desember 2009

DPU, 1991, “Tata Cara Perencanaan Teknik Sumur Resapan Air Hujan Untuk Lahan Pekarangan”, Yayasan LPMB, Bandung

Forchheimer, 1930, “Hydraulik”, Leipzig, Berlin, B.G. Teubner.

Rahman, H., 2008, “Aplikasi Water Balance Model untuk manajemen air hujan perkotaan: Studi Kasus pada Sub-DAS Sugutamu”, Universitas Indonesia, hal. 10

Sunjoto, 1989a, “Pengembangan Sistem Drainasi di Indonesia”, Ceramah Ilmiah dalam rangka 25 Tahun Jurusan Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Indonesia, Yogyakarta.

Sunjoto, 1989b, “Teknik Konservasi Air pada Kawasan Pemukiman”, Media Teknik, Edisi Nomor 2 Tahun XI April 1989, ISSN 0216.3012, halaman 77.

Suripin, 2004, “Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan”, Edisi I, Andi, Yogyakarta, halaman 226, 311.

USDA, 2017, https://www.nrcs.usda.gov/wps/portal/nrcs/detail/soils/survey/

van Schilfgaarde, J., ed., 1974, “Drainage for Agriculture”, Agronomy Series No. 17, American Society of Agronomy, Madison, WI.




DOI: http://dx.doi.org/10.26623/teknika.v12i2.641

Refbacks



TEKNIKA terindeks di :

                     

 

View My Stats

Creative Commons License
This work Jurnal Teknika is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License